AJI Kota Jambi Kecam Pemberian Remisi Susrama

HaluaNews, Jambi – Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Kota Jambi mengecam keluarnya Keputusan Presiden No 29 tahun 2018, yang memberikan remisi dari hukuman seumur hidup menjadi hukuman 20 tahun penjara terhadap Susrama, otak pembunuhan jurnalis Radar Bali, AA Prabangsa.

Kecaman ini disuarakan AJI Kota Jambi dalam aksi damai teaterikal yang dilakukan pada Jum’t sore (25/1). Dalam siaran persnya, AJI Kota Jambi juga meminta Presiden Joko Widodo untuk membatalkan Keppres tersebut serta memandang pemberian remisi bagi otak pembunuhan jurnalis adalah bentuk kurang sensitifnya pemerintah terhadap ketidakadilan yang terjadi pada pekerja pers.

“Remisi ini menjadi kemenangan bagi insan pembunuh dan duka mendalam bagi AJI Kota Jambi. Tidak ada alasan yang tepat bagi Presiden untuk memberikan remisi bagi otak pembunuhan jurnalis. Presiden harus segera mencabut keppres yang memberi keringanan hukuman kepada otak pembunuhan jurnalis,” kata Suang Sitanggang, Divisi Advokasi AJI Kota Jambi.

Sementara itu, Ketua AJI Kota Jambi, M Ramond Eka Putra Usman, mengatakan bahwa aksi ini adalah aksi permulaan yang dilakukan oleh AJI Kota Jambi menanggapi Keppres ini.

Aksi yang dilakukan AJI Kota Jambi ini merupakan bagian dari aksi bersama secara nasional yang dilakukan oleh AJI.

“Aksi ini akan terus dilakukan oleh kawan-kawan AJI di semua daerah sampai Presiden Jokowi mencabut Keppres 29/2018,” kata Ramond.

Lebih lanjut diungkapkan Ramond, penguasa dari pusat hingga daerah harus memahami peran dan fungsi pers. Kritik yang disampaikan jurnalis melalui karya jurnalistiknya, ungkap Ramond, jangan dianggap upaya menjatuhkan kredibilitas penguasa, tapi sebagai bentuk berpihak kepada masyarakat, lewat informasi yang akurat dan berimbang.

“Pers di Jambi juga belum sepenuhnya merdeka. Masih sering terjadi kekerasan fisik dan psikis kepada jurnalis dalam menjalankan tugas-tugas jurnalistiknya. Padahal semestinya jurnalis dilindungi, sebab jurnalis bekerja dilindung undang-undang,” tuturnya.

Kematian AA Prabangsa, jurnalis Radar Bali yang dibunuh secara sadis 10 tahun silam, hingga kini masih menyisakan duka bagi keluarga dan jurnalis yang tergabung dalam Aliansi Jurnalis Independen. Prabangsa dibunuh karena pemberitaannya yang mengangkat kasus korupsi.

Tindakan Susrana yang telah membunuh seorang jurnalis karena memberitakan kasus korupsi adalah bentuk pengekangan terhadap kemerdekaan pers. Harusnya, Presiden Joko Widodo memahami bahwa remisi untuk Susrana adalah bentuk ancaman terhadap kemerdekaan pers. (AJI)

Komentar

News Feed